Jejak Langkah Chickin
Dari satu IoT controller sederhana hingga ekosistem perunggasan terintegrasi yang menjangkau ribuan peternak di seluruh Indonesia.
Berawal dari Kandang Sendiri
Tubagus Syailendra, Ashab Alkahfi, dan Ahmad Syaifulloh Imron memulai sebagai peternak broiler skala kecil. Dari sinilah lahir prototipe IoT controller pertama untuk memantau suhu dan iklim kandang secara mandiri.
Chickin Resmi Berdiri
Chickin didirikan di Klaten, Jawa Tengah. IoT controller kandang pintar pertama diluncurkan ke peternak mitra, menjawab tingginya risiko dan rendahnya efisiensi peternakan ayam tradisional.
Pengakuan Inovasi Pertama
Teknologi kandang pintar Chickin meraih penghargaan inovasi tingkat nasional dan pendanaan awal, menandai kepercayaan pertama terhadap misi memodernkan industri perunggasan.
Pendanaan Seed & Ekspansi Kandang
Chickin menutup putaran pendanaan seed yang dipimpin East Ventures. Jangkauan meluas ke lebih dari 150 kandang dengan kapasitas 2,6 juta ekor ayam yang dikelola melalui platform Smartfarm.
Diakui di Panggung Global
Masuk daftar Forbes Asia 100 to Watch dan Top 10 LinkedIn Startups Indonesia, serta mewakili Indonesia di G20 Digital Innovation Alliance - membawa poultry tech karya anak bangsa ke kancah internasional.
Pertumbuhan Berlipat & Series A
Pendapatan tumbuh lebih dari 50x dibanding tahun sebelumnya, diikuti penutupan putaran pendanaan Series A untuk mempercepat inovasi teknologi dan akses pembiayaan bagi peternak.
Ekosistem Perunggasan Terintegrasi
Total pendanaan mencapai US$20 juta. Chickin berkembang menjadi ekosistem penuh - Smartfarm, Poultry Tech, Fresh, dan F&B Partners - dari hulu ke hilir.
Memberdayakan Ribuan Peternak
Didukung 165+ Chickin People, ekosistem menjangkau ribuan peternak mitra di lebih dari sepuluh kota serta kolaborasi strategis lintas industri untuk ketahanan pangan nasional.